Kamis, 17 Maret 2016
Outing Museum Wayang
SD1 Semester 2, 2015/2016
Kegiatan outing telah dilaksanakan hari kamis tanggal 16 Maret 2016. Kegiatan diikuti oleh siswa-siswi SD 1 School of Universe yang berjumlah 23 siswa dengan 2 fasilitator dan 3 guru pendamping. Rombongan SD 1 berkumpul di sekolah jam 6.30 kemudian berangkat menggunakan bis 29 seat pada jam 7.00 WIB. Rencana keberangkatan ke Museum wayang jam 6.30 namun kami masih menunggu beberapa siswa yang belum datang dan menyiapkan keperluan yang belum disiapkan seperti name tag yang belum di pasang talinya.
Kami sampai di museum wayang jam 09.30. Siswa melakukan kunjungan ke museum selama 2 jam. Alhamdulillah siswa-siswi SD 1 dapat melihat dan mempelajari berbagai macam wayang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta wayang dari negara lain. Guide selama melihat koleksi wayang menjelaskan beberapa kisah pewayangan dan tokoh-tokoh wayang, seperti Pandawa. Setelah berkeliling melihat koleksi wayang, siswa sd 1 kemudian mengerjakan worksheet dan kami menonton film 3 Dimensi mengenai kisah pertempuran arjuna dan kurawa.
Workshop pembuatan wayang dari janur dilaksanakan dengan pendampingan petugas museum wayang. Rangka wayang yang telah disediakan dililit dan dianyam menggunakan janur sehingga terbentuklah wayang janur yang unik. Kamipun lunch dan di lanjutkan solat dzuhur berjamaah di mushola Museum Wayang. Rombongan pulang menuju sekolah pada jam 13.30 , karena cukup jauh perjalanan dari musium wayang menuju parkir kamipun sangat lelah dan kepanasan dalam perjalanan menuju parkir bus. Rombongan SD 1 sampai di sekolah jam 15.40 dengan selamat dan bahagia.
Alhamdulillah Wa Syukurillah, banyak pelajaran yang dapat diambil dari kunjungan ke museum wayang. Semoga kegiatan outing selanjutnya lebih memberikan manfaat untuk proses pengembangan pengetahuan dan akhlak.
Kamis, 25 Februari 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas semakin menjadi tuntutan. Untuk menyediakannya di perlukan upaya kongkrit dalam dunia pendidikan. Upaya tersebut di antaranya menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan haruslah dilakukan sejak usia dini dimaksudkan untuk mengoptimalkan kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh setiap peserta didik semenjak dini. Hal ini perlu dilaksanakan, oleh karena itu pendidikan berperan sebagai sarana pemberdayaan individu dan masyarakat guna menghadapi tantangan masa depannya.[1]
Dalam konteks ini upaya untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) adalah melalui pendidikan. Melihat dari sebuah ulasan sejarah di Indonesaia lahirnya Era Reformasi sebagai koreksi terhadap Orde Baru.[2] Berpengaruh besar terhadap perubahan kebijakan sektor pendidikan setahun kemudian, pemerintah membentuk tim yang bertugas untuk mengkaji kembali masalah-masalah pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) selama masa orde baru tim ini di bentuk oleh Presiden No. 18 tahun 1999.

Hasil kajian tim ini berupa rekomendasi bagi pemerintah akan perlunnya membangun paradigma baru pendidikan nasional dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.[3] Meninjau dari mutu sumber daya manusia yang ada di Indonesia pada saat ini yaitu masih rendah, karena rendahnya mutu sumber daya manusia menandakan masih rendahnnya mutu pendidikan. Dan jika mutu SDM masih rendah maka akan berdampak pada ketidak mampuan SDM tersebut bersaing di dunia Global. Untuk itu oerlu adanya perubahan pada sistem pendidikan yang menuntut kerjasama anatara pemerintah, penyelenggara pendidikan dan masyarakat.
Dalam penyelenggaraan pendidikan ditemukan beberapa masalah yang kompleks. Menurut Munawar Sholeh, problem yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah rendahnya mutu tenaga kependidikan (guru) kita. Rendahnnya mutu guru berdampak pada rendahnnya kualitas anak didik (murid), yang otomatis akan mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan kita. Haruslah dilakukan profesionalisme yang tinggi, pendidikan akan bisa ditingkatkan kualitasnya. Kualitas pendidikan yang baik pada akhirnnya akan meningkatkan daya saing bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).[4]
Mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik tidak terlepas dari seorang guru yang ada didalamnnya, pendidikan akan baik jika gurunyapun berkualitas dan sebaliknya pendidikan tidak akan berjalan baik jika sosok tauladannyapun tidak baik. Hal ini menunjukan bahwa peran seorang guru dalam pendidikan sangatlah penting. Guru memiliki peran yang tidak tergantikan dan sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sebagai ujung tombak bagi keberhasilan setiap kebijakan dalam pendidikan. Sebaik apapun kurikulum, sebijak apapun kebijakan, dan selengkap apapun sarana prasana pendukung proses pembelajaran tidak akan berarti apa-apa tanpa keterlibatan guru dalam tataran implementasinnya.
Adapun peran guru yang harus dilakukan guru agar menjadi profesional adalah guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet dan kulminator (E. Mulyasa, 2010: 37-64).
Hal yang sangat penting untuk disadari guru dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnnya, bahwa pembelajaran memiliki sifat yang kompleks. Peran seorang guru melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan dedaktis secara bersamaan. Aspek Pedagogis, menunjukan bahwa guru harus senantiasa mendampingi dan mengarahkan siswa mencapai keberhasilan dalam belajar. Aspek Psikologis, menunjukan bahwa para siswa pada umumnnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, yang me untut pemahaman guru dalam menyikapi perbedaan tersebut. Proses bealajar sendiri, secara psikologis, mengandung berbagai variasi (gaya belajar) sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimilikinya.[5] Aspek didaktis yaitu guru dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam pengelolaan kelas dan mengorganisasikannya dengan baik.
Sebagian orang mengira menjadi guru merupakan pekerjaan mudah. Padahal kalau kita kembalikan lagi kepada pengertian dasarny, maka sungguh tidaklah mudah mejadi menjalani profesi sebagai seorang guru. Apalagi, menjadi guru favorit yang di cintai oleh murid, baik didalam maupun di luar sekolah. Untuk menjadi guru favorit, tidak hanya kepiawaian dalam menyampaikan materi yang di butuhkan, akan tetapi yang tidak kalah penting adalah penguasaan guru terhadap materi, penataan sikap, pemilihan metode yang tepat, perlakuan, dan banyak hal lainnya yang secara keseluruhan menuntut tanggung jawab penuh dari seorang guru.[6]
Dalam paradigma jawa, seorang pendidik yang diidentikan dengan guru mempunyai makna sebagai sosok “digugu dan ditiru”. Artinya seorang guru harus bisa menjadi pribadi yang dapat di contoh budi pekertinya sekaligus menjadi panutan segala pendapat dan tutur katanya. Dari pengertian ini saja, kita dapat menarik suatu kesimpulan betapa tidak mudahnya menjadi sosok yang benar-benar dapat digugu dan ditiru itu (Salman Rusydie, 2012: 7-8).
Perlu dipahami bahwa menjadi seorang guru favorit pada dasarnya merupakan salah satu upaya menuju kualitas guru yang baik. Seorang guru hauslah dapat memperhatikan dengan baik anak didiknya, melihat perkembangan akademis maupun non akademis anak didiknya, melihat perkembangan karakter dan bakat peserta didik. Namun melihat fenomena yang ada pada saat ini pendidikan yang bersifat karkter sangatlah penting.
Nilai-nilai karakter, pendidikan karakter, sekolah Anak-anak dan remaja dewasa ini sedang hidup di awal abad 21 yang memiliki corak berbeda sama sekali dengan kehidupan abad-abad sebelumnya. Abad ini ditandai oleh perubahan yang berjalan sangat cepat, kompleks, sulit diprediksi dan kompetitif. Dari sisi pemikiran, pada abad ini terjadi pergeseran paradigma ”knowledge is power menuju idea is power”. Oleh karena itu, abad ini membutuhkan kecakapan individu (soft competence) yang dapat digunakan anak-anak dan remaja merespon tuntutan perubahan yang cepat itu dengan segala kompleksitas persoalannya.
Sekolah sebagai wahana pembelajaran tidak diragukan berperan besar dalam pengembangan karakter siswa. Sekolah telah mengantar anak-anak dan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya hingga memasuki masa dewasa dengan baik. Di lembaga ini otak, hati, dan badan anak di ditumbuhkembangkan agar lebih cerdas, peka dan sehat. Dengan kecerdasan otak, kepekaan hati, dan kesehatan fisik diaharapkan dapat mejadi modal kemandirian di masa yang akan datang[7](Santrok, 2003 h. 175).
Pendidikan di Indonesia sudah saatnya untuk memihak kepada kompetensi, baik kompetensi keahlian maupun kompetensi karakter; bukan hanya kompetensi matematika, kimia, fisika, dan sejenisnya (Rosyid, 2010).
Kondisi-kondisi sebagaimana digambarkan memerlukan pemecahan yang fundamental dan komprehensif. Pemecahan mendasar terkait dengan pendidikan moral dan motivasi diri, dan pemecahan komprehensif mencakup seluruh lapisan masyarakat. Gerakan pendidikan karakter berbangsa merupakan solusi yang penting dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara konseptual pendidikan karakter telah disusun dan dimulai untuk diterapkan di sekolah. Ada delapan belas nilai karakter yang perlu diimplementasi di sekolah, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab (Puskur. 2009).
Selain karakter yang memang dibutuhkan, tidak lepas dari peran spiritual yang dibutuhkan dalam pendidikan. Dengan adanya kedekatan kita dengan Tuhan Yang Maha Esa menggambarkan keyakinan kita kepada Allah SWT dalam membentuk manusia yang baik serta bertanggung jawab.
Kaitannya dengan uraian diatas, penulis mencoba mengadakan pengamatan tentang seberapa besar peran guru dalam pengembangan karakter siswa yang Islami. Selain segi pertimbangan yang diambil adalah karena masalahhnya penting untuk diungkap dan dianalisisi lebih lanjut. Juga karena mempunyai kaitannya yang erat dengan usaha pemerintah serta memperluas pembinaan kesadaran dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara serta mewujudkannya dengan usaha-usaha yang berkaitan dengan spiritualisme mampu menguatkan keyakinan kepada Allah SWT dalam dunia pendidikan.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang sedang berkembang dalam dunia pendidikan pada era modern ini. Diamana peran seorang guru dalam membangun dan mengembangkan pendidikan yang berkarakter baik sangatlah dibutuhkan. Melihat dari sebuah moral yang berkembang tidak baik, kasus kekerasan, pelcehan antara guru dengan siswanya dan sebaliknya ini membuktikan bahwa penanaman dan pengembangan karakter sangatlah penting. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana peran guru dalam pengembangan karakter yang islami studi kualitatif pada sekolah dasar di School of Universe di Parung-Bogor.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, beberapa masalah dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Bagaimana peran guru di sekolah dasar School of Universe?
2. Bagaimana motivasi kerja guru di sekolah dasar School of Universe?
3. Bagaimana karakter siswa pada sekolah dasar School of Universe?
4. Apakah guru berperan penting terhadap karakter siswa di sekolah dasar School of Universe?
5. Bagaiaman mengembangkan karakter yang islami di sekolah dasar School of Universe?
6. Apa metode dan strategi yang digunakan oleh guru di sekolah dasar School of Universe?
7. Bagaimana proses pembiasaan dalam penerapan karakter yang islami di sekolah dasar School of Universe?
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas diketahui bahwa permasalahan yang dapat diteliti cukup banyak dan tidak mungkin dapat dicermati seluruhnya karena keterbatasan kemampuan peneliti. Dengan alasan ini, peneliti akan membatasi hanya mengenai peran guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami pada sekolah alam School of Universe.
D. Perumusan Masalah
1. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan ini penulis maksudkan agar pembahasannya tidak meluas dan menjadi kabur, adapun pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peran guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami di School of Universe?
2. Bagiamana upaya guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami di School of Universe?
3. Bagaiamana hasil pengembangan karakter siswa yang Islami terhadap guru School of Universe?
E. Tujuan Penelitian
Setelah didapat rumusan masalah diatas maka tujuann penelitian merupakan pedoman dalam pekerjaan penelitian. Sebab suatu pekerjaan tanpa disertai tujuan akan rancuh dan tidak mendapatkan keabsahan dalam penelitian, adapun tujuan penelitian untuk memperoleh data:
1. Peran guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami di School of Universe.
2. Upaya guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami di School of Universe.
3. Hasil pengembangan karakter siswa yang Islami terhadap guru School of Universe.
F. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak terkait khususnya bagi:
1. Peneliti, secara teoritik dapat menambah wawasan, sedangkan secara praktis dapat menambah pengalaman dalam melakukan penelitian di lapangan (field research);
2. Kepala Sekolah Dasar School Of Universe, sebagai masukan untuk dicermati sekaligus sebagai bahan untuk dipertimbangkan dalam menentukan berbagai kebijakan kepala sekolah untuk mengarah pada perbaikan mutu di sekolah yang dipimpin.
3. Guru, secara teoritik dapat menambah wawasan tentang peningkatan kualifikasi profesional, sedangkan secara praktis dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif, inovatif, menggembirakan dan efektif;
4. Universitas Islam “45”, sebagai khazanah keilmuan yang di kemudian hari dapat menjadi bahan rujukan pada perpustakaan kampus.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
G. Landasan Teori
1. Peran Guru dalam Mengembangkan Karakter Siswa
a. Pengertian guru
Secara istilah, pendidik adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif kognitif maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam (ahmad tafsir, 2002:14)
Dijabarkan secara umum bahwa pendidik diartikan sebagai orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik, yaitu manusi biasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan si terdidik(peserta didik)[8].

Dalam konteks psikologi, pendidik (guru) menurut Wasty Soemanto (1998:237) adalah mahluk biasa. Pandangan pakar psikologi bahwa pendidik sejati bukanlah mahluk yang berbeda-beda dengan peserta didiknya. Ia bukan mahluk serba cermat dan pintar sehingga pendapat pendidiklah yang serba benar dan menganggap peserta didik dibawahnya secara keseluruhan. Secara konstitusional, pasal 1 UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususanya, serta berprestasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam prespektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah merumuskan empat jenis kompetensi guru, sebagai tercantum dalam penjelasan peraturan pemerintah No. 14 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional, yaitu sebagai berikut:
1. Kompetensi pedagogik, yang dimaksud dengan kopetensi pedagogik adalah kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi:
a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
b. Pemahaman terhadap peserta didik
c. Pengembangan kurikulum/ silabus
d. Perencangan pembelajaran
e. Pelaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
f. Evaluasi hasil belajar
g. Pengemabangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kopetensi kepribadian, yang dimaksud dengan kopetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang meliputi mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berahlak mulia dan menjadi teladan peserta didik dan masyarakat. Mengevaluasi kinerja sendiri dan mengembangkan kinerja diri secara berkelanjutan
3. Kopetensi sosial, adalah kemampuan pendidik sebagai bagaian dari masyarakat. Seara luas dan mendalam meliputi komunikasi lisan dan tulisan, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:
a. Konsep, struktur dan metode keilmuan, teknologi, seni yang menaungi.
b. Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
c. Hubungan konsep antara mata pelajaran terkait
d. Penerapan kosnep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
e. Kopetensi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.[9]
Salah satu peran guru adalah sebagai profesional. Jabatan guru sebagai profesional menuntut peningkatan kecakapan, dan mutu keguruan secara berkesinambungan. Guru yang berkualitas, profesional yaitu guru yang tahu secara mendalam materi yang diajarkannya, cakap dalam mengajarkannya secara efektif serta efesien, dan mempunyai kepribadian yang mantap. Selain itu integritas diri serta kecakapan gurunya juga perlu di tumbuhkan serta di kembangkan.
Pekerjaan menjadi guru adalah pekerjaan menyentuh kehidupan masing-masing anak. Guru dalah pembuka jalan sehingga anak-anak menentukan takdir mereka sendiri-sendiri yang terbaik. Pekerjaan ini membutuhkan dedikasi yang tinggi. Walaupun secara naluri sebagian pewawancara senior segera mendapat intuisi kalau sudah mendapatkan guru yang alami. Guru yang tertakdirkan adalah memiliki bakat dan minat: developer, komunikator, empati, connectedness.[10]
Menjadi guru adalah pekerjaan sangat niscaya dilakukan oleh setiap orang. Kita bisa mngerahkan segenap akal budai dan daya untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Karena belum dianggap pemimpin yang hebat jika tidak melahirkan pemimpin hebat lainnya. Guru yang baik adalah guru yang tidak menggurui, menjelaskan ketika diperlukan saja. Fungsi terbaik guru adalah memfasilitasi , juga memudahkan. Guru seperti ini kesehariannya bertugas membantu memberi makna peristiwa kepada anak didiknya. Guru yang heba adalah guru yang mampu menginspirasi.
b. Mencintai anak-anak dan menjadi orang tua kedua di sekolah
kasih sayang adalah syarat utama menjadi guru. Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi baik. Diantara kebutuhan manusia kasih sayang adalah kebutuhan utama. Anak yang memperoleh kasih sayang, dan mampu menyayangi, biasanya secara otomatis akan menjadi anak yang baik.
c. Kepribadian matang dan bagus, beriman dan berahlak mulia
Guru merupakan teladan bagi siswannya karena Allah telah mengutus nabi Muhammad sebagai role model di dunia, bukannya malaikat. Secara implisit menyatakan bahwa ajaran ini didesain untuk kebahagiaan manusia, manusiawi dan pasati akan dilaksanakan oleh manusia, istilah lainnya ia membumi.[11]
Pengaruh role model lebih kuat dibandingkan dengan hujan kata-kata. Ingat waktu nabi memotong rambutnya ketika beribadah haji, Berbondong-bondong setelah itu para sahabat melakukannya. Dalam jiwa manusia, ada naluri imitating, meniru. Keteladanann yang sejati, bukan sekedar kamuflase, sangat perlu agar bisa diihat, didengarkan setiap saat dan menjadi pemandangan dan contoh sehari-harinya di sekolah.
Mengajar adalah proses transfer ruh, guru tidak mungkin menuntut kepada sesuatu yang dia sendiri dia tidak kerjakan. Baik anak melihat perbuatan guru tersebut ataupun tidak. Perbuatan yang dilakukan itu akan membekas pada aura guru. Ruh tidak berdusta. Untuk itu guru harus mengamalkan agama dengan sangat baik, berahlak baik, karena kebaikannya akan memancar dan menular. Karena kita pun menginginkan anak yang kita didik menjadi anak yang solih dan soliha, apakah kita sudah mencintai lingkungan, sudah berbisnis, berjiwa kepemimpinan. Kita harus memanfaatkan dasar-dasar berlogika yang baik.
2. Pengertian Perkembangan karakter
Karakter moral atau karakter adalah evaluasi kualitas tahan lama individu tertentu moral. Konsep karakter dapat menyiratkan berbagai atribut termasuk keberadaan atau kurangnya kebajikan seperti perilaku integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau baik atau kebiasaan. Karakter moral terutama mengacu pada kumpulan kualitas yang membedakan satu orang dari yang lain - meskipun pada tingkat budaya, serta perilaku moral untuk mana melekat kelompok sosial dapat dikatakan bersatu dan mendefinisikan budaya yang berbeda dari orang lain. Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan karakter moral sebagai "disposisi untuk mengekspresikan perilaku dalam pola yang konsisten fungsi di berbagai situasi.
Kata "karakter" berasal dari kata Yunani charaktêr, yang semula digunakan tanda terkesan atas koin. Kemudian dan lebih umum, itu datang berarti sebuah titik dimana satu hal diberitahu terpisah dari orang lain. Ada dua pendekatan ketika berhadapan dengan karakter moral. Etika normatif melibatkan standar moral yang menunjukkan perilaku benar dan salah. Ini adalah tes perilaku yang tepat dan menentukan apa yang benar dan salah. Etika terapan melibatkan isu-isu spesifik dan kontroversial bersama dengan pilihan moral, dan cenderung melibatkan situasi di mana orang-orang baik untuk atau melawan masalah ini.
Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup.[12]
Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri.
Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral.
Hal ini diperlukan agar peserta didik dan atau warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan (moral).
Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge).
Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri (conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati (humility).
Moral action merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
H. Kerangka Pemikiran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2001: 377), guru adalah manusia yang tugasnya (provesinya) mengajar, dalam buku kamus pendidikan, guru adalah pendidika profesional di sekolah dan tugas utamanya adalah mengajar (vebrianto, 1994:21). Secara linguistik, istilah yang bermakna guru terdapat di seluruh bahasa dunia, dalam bahasa Inggris, umpannya dikenal dengan istilah teacher yang padanan bahasa Indonesianya adalah guru.
Teacher memiliki arti A person whose occupation is teaching others, yaitu seseorang yang pekerjaannya mengajar orang lain (syah, 2003: 222). Dalam bahasa arab, guru dikenal dengan istilah salah satunnya mu’allimi, yaitu orang yang menjadikan orang lain berilmu atau orang yang menyapaikan informasi keapda orang lain. Di jelaskan dalam firman Allah SWT yaitu pada surat al-faathir ayat 35 Allah SWT berfirman:
üÏ%©!$# $oY¯=ymr& u#y ÏptB$s)ßJø9$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù w $uZ¡yJt $pkÏù Ò=|ÁtR wur $uZ¡yJt $pkÏù Ò>qäóä9 ÇÌÎÈ
Artinya : Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama [13]Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Hasbi Ash-Shiddiqi, 2000 h. 2217)
1. Peran Guru
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan baik jasmani maupun rohaninya. Agar tercapai tingkat kedewasaan mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai mahluk Tuhan, mahluk sosial dan mahluk individu yang mandiri (Dri Atmaka 2004: 17). Hal ini menunjukan betapa pentingnya seorang guru dalam membawa perubahan masa depan bangsa bahkan dunia. Adapun peran dari seorang guru dalam proses kemajuan pendidikan sangatlah penting. Guru merupakan salah satu faktor utama bagi terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas, tidak hanya dari sisi intelektulitas saja melainkan juga dari tata cara berperilaku dalam masyarakat. Oleh karena itu tugas yang diemban guru tidaklah mudah. Guru yang baik harus mengerti dan paham tentang hakekat sejati seorang guru, hakekat guru dapat kita pelajari dari definisi atau pengertian dari istilah guru itu sendiri
Guru-guru yang efektif yang membangun hubungan positif dengan siswanya tampaknya menjadi kekuatan yang besar pada kehidupan siswanya. Siswa yang mempunyai masalah adalah yang tampaknya mendapat manfaat terbesar dari pengajara yang baik.[14]
Di tinjau dari sebuah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disahkan oleh DPR bersama Presiden pada 30 Desember 2005. Dan, diundangkan di Jakarta pada tanggal yang sama dalam Lembaran Negara RI Tahun 2005 Nomor 157. Pada UU ini dijelaskan pengertian yang berkaitan dengan guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Pada bab I pasal I ketentuan umum menjelaskan
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[15]
Seorang guru sebagai pendidik yang dapat membangun dan mengembangkan karakter siswanya adalah guru yang mampu menjadikan dirinya sebagai multi talent. Menjadi guru yang mampu menguasai pembelajaran, memanajemen tugas-tugas administrasinya dan mampu membngun semangat anak didiknya tidaklah mudah. Terlebih memasuki pada zaman modern dimana semua teknologi dan informatika sudah berkembang pesat dan menjadikan sebuah tantangan yang nyata bagi guru untuh tetap menumbuhkan karakter-karakter yang baik kepada anak didiknya.[16]
2. Pengemabangan karakter yang Islami
Karakter secara harfiyah berasal dari bahasa Latin “character”, yang berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Secara istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Jadi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat.
Karakter sama dengan akhlak dan budi pekerti. Karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa/budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik (Ridwan Asy-Syiarbaany, 2010: 177).
Pendidikan karakter adalah penanaman nilai esensial dengan pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadiannya. Pendidikan karakter dalam grand desain pendidikan karakter, adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Pendidikan karakter dalam Islam dapat dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah. Sifat dasar manusia yang diberikan Allah adalah sifat fujur (cenderung kepada keburukan/kefasikan) dan sifat taqwa (cenderung kepada kebaikan), sebagaimana Al-Qur’an Surah Asy-Shams, 91: 7-8 Allah SWT berfirman:
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ
Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
(Hasbi Ash-Shiddiqi, 2001 h. 278)
kedua sifat inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter (nilai baik atau buruk). Nilai baik disimbolkan dengan nilai malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai setan. Karakter manusia adalah hasil tarik menarik antara kedua nilai tersebut dalam bentuk energi positif dan negatif.
Maka hanya orang yang bertakwalah yang mampu menunjukkan sebagai pribadi hamba dan khalifah Allah. Jadi, tujuan pendidikan karakter Islami adalah menjadikan anak didik sebagai hamba dan khalifah Allah yang berkualitas taqwa. Pekerjaan atau aktifitas taqwa meliputi semua bidang mulai dari keyakinan hidup, ibadah, moralitas, aktifitas interaksi sosial, cara berfikir, hingga gaya hidup.[17]
Menciptakan karakter yang islami dengan pendidikan yang bebas tetapi tetap berada dalam nilai-nilai pendidikan maka penulis mencoba mendeskripsikan mengenai sekolah alam dan penulis akan melihat sebesar apa peran guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami.
3. Konsep Sekolah Alam
Sekolah alam pada dasarnya adalah bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam semesta sebagai tempat belajar, bahan mengajar dan juga sebagai objek pembelajaran. Dengan konsep pendidikan ini para siswa diharapkan bisa belajar dari alam lingkungan sekitar dan mengaitkan pelajaran serta menerapkan ilmu yang didapat dengan kehidupan nyata sehari-hari.
Bangunan tempat anak belajar di sekolah alam biasanya terbuat dari bahan yang ramah lingkungan seperti bambu dan kayu lokal. Para siswa biasanya duduk di lantai (lesehan) atau duduk di kursi yang terbuat dari bambu atau kayu. Jalan setapak di sekitar tempat belajar pun biasanya menggunakan batu-batu kali dari alam.
Kelas yang digunakan tidak tertutup seperti kelas di sekolah formal melainkan berupa saung atau ruang belajar terbuka. Itu pun tidak terlalu sering dipergunakan karena anak didik sekolah alam lebih sering melakukan praktek di lapangan. Situasi belajar di alam terbuka menawarkan siswa untuk menghirup udara segar sambil menikmati keindahan alam sekitar. Konsep belajar melalui pengalaman yang didapat langsung sambil bermain dan berinteraksi di alam terbuka ini jelas membuat anak tidak mudah bosan saat belajar.
Para siswa sekolah alam juga tidak mengenakan seragam sekolah sebagaimana layaknya siswa di sekolah umum. Siswa hanya dituntut untuk berpakaian bersih dan sesuai untuk kegiatan belajar di sekolah.
Hal ini tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan ruang belajar di sekolah formal. Pada umumnya kegiatan belajar mengajar di sekolah umum dilakukan di dalam ruang belajar atau kelas tertutup. Anak lebih banyak mendapat teori pelajaran dan sedikit praktek di lapangan. Situasi dan kondisi belajar mengajar di ruang yang memiliki 4 dinding memberikan kesan yang kaku.
Konsep pendidikan alternatif di alam terbuka menjadikan para siswa dan guru sekolah alam lebih aktif, bersemangat dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. Para siswa sekolah alam diajarkan untuk dekat dengan alam, bercocok tanam, membudidayakan dan mendaur ulang hasil alam, mulai dari menanam tanaman sendiri, menuai hasilnya, memakan makanan organik dari kebun sendiri dan diajarkan cara mengolah atau memproduksi makanan itu sendiri menjadi sebuah bisnis.
Misalnya saat anak belajar mengenai berbagai macam fungsi dan bagian dari tanaman. Di sekolah alam, anak-anak dapat melakukan percobaan, mengamati, mendiskusikan dan menyimpulkan sendiri hasil penelitian yang mereka lakukan.
Mempelajari alam semesta dengan mengalami langsung pengetahuan yang sedang dipelajari merangsang kreativitas siswa. Kebebasan untuk menggunakan logika dalam berpikir inilah yang memacu motivasi siswa untuk bergairah mencari ilmu.
Peran seorang guru dalam pengemebangan karakter siswa yang islami pada studi kasus di sekolah alam inilah menjadika tantangan tersendiri bagi penulis untuk mengetahui berbagai macam pendidikan yang disajikan pada sekolah alam, mulai dari konsep, manajemen, kegiatan belajar mengajar, metode yang digunakan, kurikulum dan lainnya.
I. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang signifikan antar peran guru dalam pengembangan karakter siswa di Sekolah School of Universe.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara persepsi guru tentang karakter siswa yang islami di Sekolah School of Universe.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara karakter yang islami terhadap peran guru dalam pengembangannya di Sekolah School of Universe.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah alam School Of Universe yang terletak di Parung, Bogor. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret s.d. Juli 2016. Adapun kegiatan selama 5 bulan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
B. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode penelitian
Metode penelitian dalam Tesis ini adalah metode Studi Kasus
2. Jenis dan sumber data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Sumber data ada yang bersifat teoritik dan empirik, data teoritik datadata yang berasal dari data buku-buku literature yang ada kaitanya dengan tesis ini, data teoriktik ini diperoleh dari perpustakaan, media cetak, media elektronik.
Adapun sumber data empirik adalah data yang berasal dari lokasi penelitian atau seseorang dijadikan objek penelitian yaitu guru sekolah dasar School of Universe Parung-Bogor.
3. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam tesis ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Menurut Harun Nasution (1988) dalam buku Sugiyono menyatakan bahwa observasi adalah dasar ilmu pengetahuan.
a. Observasi
Observasi merupakan salah satu cara yang digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Pengamatan sering dipilih sebagai teknik pengumpulan data yang berkaitan dengan tingkah laku. Hal ini dilandasi oleh suatu pertimbangan, bahwa tingkah laku kurang tepat bila diukur dengan tes maupun angket. (Aini, 2010: 125)
b. Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini yaitu melakukan perbincangan dengan pihak-pihak terkait: kepala sekolah Sekolah Dasar School of Universe dan lain-lain. Dilihat pelaksanaannya, wawancara dibedakan atas wawancara bebas terpimpin dan wawancara terpimpin. Dalam wawancara bebas terpimpin pewawancara bebas menyatakan apa saja, tetapi tetap dalam batas lingkup yang diteliti tanpa disertai dengan panduan atau pedoman wawancara.
Wawancara terpimpin yaitu suatu kegiatan wawancara yang pewawancaranya telah mempersiapkan sederetan pertanyaan sedemikian lengkap dan terperinci sementara wawancara bebas-terpimpin yaitu kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin. Dalam hal ini pewawancara mempersiapkan panduan atau pedoman wawancara sebagai garis besar. (Ainin, 2010: 123) Dalam hal ini peneliti memilih bentuk wawancara bebas-terpimpin untuk memperoleh data yang diperlukan.
c. Dokumentasi
Terakhir peneliti menggunakan teknik dokumentasi untuk memperoleh data. Dokumentasi ialah analisis data yang dilakukan dengan mengkaji dokumen-dokumen terkait penelitian dalam hal ini salah satu bentuk dokumen yang akan peneliti gunakan diantaranya, foto-foto, daftar nama guru dan peserta didik Sekolah Dasar School of Universe serta data-data lainya.
4. Teknik analisis data
Teknik analisis data dalam Tesis ini yaitu dengan menggunakan dua proses analisis data yaitu analisis sebelum menggali data dilapangan dan analisis data selama dilapangan, dengan mengguanakan deskriptif dan perbandingan hasil data.
[1] Lihat UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas, bab I, pasal I, butir XIV (terbitan Bandung: Citra umbara, 2003 hal. 3 ) dinyatakan bahwa pendidikan adalah suatu upaya pembinaan yang di tunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
[2] Era Reformasi lahir pada tanggal 21 Mei 1998 yang dimotori dan diawali oleh gerakan moral
para mahasiswa, pada prinsipnya mengandung tiga tuntutan yang hendak diwujudkan yakni:
(1)demokrasi, (2) kebebasan berpendapat dan berbeda pendapat, dan (3) keterbukaan
[3] Tim ini diketuai oleh A. Malik Fajar, menteri agama pada waktu itu, sebagai koordinator dan
beranggotakan delapan pemerhati pendidikan, yaitu Hidayat Syarief, Hafid Abbas, Anah Suhaenah
Soeparno, Arief Rachman, Umar Anggara Jenie, Fachry Gaffar, Husni Rahim, dan Fasli Jalal. Lihat
H.A. Malik Fajar, Koordinator. Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan Sumber daya Manusia Tim Nasional Reformasi pendidikan menuju masyarakat yang madani : kelompok pendidikan dan pengembangan SDM. Dirjen pembinaan kelembagaan Agama Islam Depag RI, 25 Juni 1999.
Rekomendasi itu kemudian dipublikasikan berbentuk buku dengan judul " Platform Reformasi
Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia."
[4] Munawar Sholeh, Cita-cita realita pendidikan pemikiran dan aksi pendidikan di Indonesia
(Jakarta: Institute for Public Educational (IPE), 2007), h. xi
[5] Tipe kecerdasan ini diambil dari teori kecerdasan majemuk Gardner, yang mengidentifikasikan delapan tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan bahasa, logika-matematika, musical, kinestetis tubuh, spesial, naturalis, interpersonal dan intrapersonal. Lihat Thomas R. Hoer, Buku kerja multipel intelegences: pengalaman new City School di st. Louis, Missouri, AS dalam menghargai kecerdasan anak, penerjemah: Ary Nilandri (Bandung: Kaifa, 2007) cet. Kesatu, h, 15
[6] Salman Rusydie, 2012. Tuntunan menjadi guru favorit . Jakarta : jagakarsa h. 7-8
[7] Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
[8] Ahmad D marimba, 198:37
[9] Mahmud. 2011. Sosiologi pendidikan. Bandung; Pustaka setia h. 108
[10] Abah rama 2011:76
[11] Lendonovo. Belajar bersama alam. Bogor: SOU publisher. 2011 h. 81
[12] Desmita. 2009. Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja rosdakarya h. 35
[13] Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah
[14] Anita wolfook. Educational pshychology, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009 h. 7
[15] Pendidikan nasional strategi dan tragedi, 2009 h. 289
[16] Hariyanto. 2011. Belajar dan pembelajaran. Bandung: PT Remaja rosdakarya
[17] http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/24/pendidikan-karakter-dalam-perspektif-Islam-pendahulan/ diakses pada 23 Februari 2016 pukul 19.12WIB
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Landasan Teori
1. Peran Guru dalam Mengembangkan Karakter Siswa
a. Pengertian guru
Secara istilah, pendidik adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif kognitif maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam (ahmad tafsir, 2002:14)
Dijabarkan secara umum bahwa pendidik diartikan sebagai orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik, yaitu manusi biasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan si terdidik(peserta didik)[1].
Dalam konteks psikologi, pendidik (guru) menurut Wasty Soemanto (1998:237) adalah mahluk biasa. Pandangan pakar psikologi bahwa pendidik sejati bukanlah mahluk yang berbeda-beda dengan peserta didiknya. Ia bukan mahluk serba cermat dan pintar sehingga pendapat pendidiklah yang serba benar dan menganggap peserta didik dibawahnya secara keseluruhan. Secara konstitusional, pasal 1 UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususanya, serta berprestasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dalam prespektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah merumuskan empat jenis kompetensi guru, sebagai tercantum dalam penjelasan peraturan pemerintah No. 14 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional, yaitu sebagai berikut:
1. Kompetensi pedagogik, yang dimaksud dengan kopetensi pedagogik adalah kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi:
a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
b. Pemahaman terhadap peserta didik
c. Pengembangan kurikulum/ silabus
d. Perencangan pembelajaran
e. Pelaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
f. Evaluasi hasil belajar
g. Pengemabangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kopetensi kepribadian, yang dimaksud dengan kopetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang meliputi mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berahlak mulia dan menjadi teladan peserta didik dan masyarakat. Mengevaluasi kinerja sendiri dan mengembangkan kinerja diri secara berkelanjutan
3. Kopetensi sosial, adalah kemampuan pendidik sebagai bagaian dari masyarakat. Seara luas dan mendalam meliputi komunikasi lisan dan tulisan, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:
a. Konsep, struktur dan metode keilmuan, teknologi, seni yang menaungi.
b. Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
c. Hubungan konsep antara mata pelajaran terkait
d. Penerapan kosnep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
e. Kopetensi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.[2]
Salah satu peran guru adalah sebagai profesional. Jabatan guru sebagai profesional menuntut peningkatan kecakapan, dan mutu keguruan secara berkesinambungan. Guru yang berkualitas, profesional yaitu guru yang tahu secara mendalam materi yang diajarkannya, cakap dalam mengajarkannya secara efektif serta efesien, dan mempunyai kepribadian yang mantap. Selain itu integritas diri serta kecakapan gurunya juga perlu di tumbuhkan serta di kembangkan.
Pekerjaan menjadi guru adalah pekerjaan menyentuh kehidupan masing-masing anak. Guru dalah pembuka jalan sehingga anak-anak menentukan takdir mereka sendiri-sendiri yang terbaik. Pekerjaan ini membutuhkan dedikasi yang tinggi. Walaupun secara naluri sebagian pewawancara senior segera mendapat intuisi kalau sudah mendapatkan guru yang alami. Guru yang tertakdirkan adalah memiliki bakat dan minat: developer, komunikator, empati, connectedness.[3]
Menjadi guru adalah pekerjaan sangat niscaya dilakukan oleh setiap orang. Kita bisa mngerahkan segenap akal budai dan daya untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Karena belum dianggap pemimpin yang hebat jika tidak melahirkan pemimpin hebat lainnya. Guru yang baik adalah guru yang tidak menggurui, menjelaskan ketika diperlukan saja. Fungsi terbaik guru adalah memfasilitasi , juga memudahkan. Guru seperti ini kesehariannya bertugas membantu memberi makna peristiwa kepada anak didiknya. Guru yang heba adalah guru yang mampu menginspirasi.
b. Mencintai anak-anak dan menjadi orang tua kedua di sekolah
kasih sayang adalah syarat utama menjadi guru. Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi baik. Diantara kebutuhan manusia kasih sayang adalah kebutuhan utama. Anak yang memperoleh kasih sayang, dan mampu menyayangi, biasanya secara otomatis akan menjadi anak yang baik.
c. Kepribadian matang dan bagus, beriman dan berahlak mulia
Guru merupakan teladan bagi siswannya karena Allah telah mengutus nabi Muhammad sebagai role model di dunia, bukannya malaikat. Secara implisit menyatakan bahwa ajaran ini didesain untuk kebahagiaan manusia, manusiawi dan pasati akan dilaksanakan oleh manusia, istilah lainnya ia membumi.[4]
Pengaruh role model lebih kuat dibandingkan dengan hujan kata-kata. Ingat waktu nabi memotong rambutnya ketika beribadah haji, Berbondong-bondong setelah itu para sahabat melakukannya. Dalam jiwa manusia, ada naluri imitating, meniru. Keteladanann yang sejati, bukan sekedar kamuflase, sangat perlu agar bisa diihat, didengarkan setiap saat dan menjadi pemandangan dan contoh sehari-harinya di sekolah.
Mengajar adalah proses transfer ruh, guru tidak mungkin menuntut kepada sesuatu yang dia sendiri dia tidak kerjakan. Baik anak melihat perbuatan guru tersebut ataupun tidak. Perbuatan yang dilakukan itu akan membekas pada aura guru. Ruh tidak berdusta. Untuk itu guru harus mengamalkan agama dengan sangat baik, berahlak baik, karena kebaikannya akan memancar dan menular. Karena kita pun menginginkan anak yang kita didik menjadi anak yang solih dan soliha, apakah kita sudah mencintai lingkungan, sudah berbisnis, berjiwa kepemimpinan. Kita harus memanfaatkan dasar-dasar berlogika yang baik.
2. Pengertian Perkembangan karakter
Karakter moral atau karakter adalah evaluasi kualitas tahan lama individu tertentu moral. Konsep karakter dapat menyiratkan berbagai atribut termasuk keberadaan atau kurangnya kebajikan seperti perilaku integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau baik atau kebiasaan. Karakter moral terutama mengacu pada kumpulan kualitas yang membedakan satu orang dari yang lain - meskipun pada tingkat budaya, serta perilaku moral untuk mana melekat kelompok sosial dapat dikatakan bersatu dan mendefinisikan budaya yang berbeda dari orang lain. Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan karakter moral sebagai "disposisi untuk mengekspresikan perilaku dalam pola yang konsisten fungsi di berbagai situasi.
Kata "karakter" berasal dari kata Yunani charaktêr, yang semula digunakan tanda terkesan atas koin. Kemudian dan lebih umum, itu datang berarti sebuah titik dimana satu hal diberitahu terpisah dari orang lain. Ada dua pendekatan ketika berhadapan dengan karakter moral. Etika normatif melibatkan standar moral yang menunjukkan perilaku benar dan salah. Ini adalah tes perilaku yang tepat dan menentukan apa yang benar dan salah. Etika terapan melibatkan isu-isu spesifik dan kontroversial bersama dengan pilihan moral, dan cenderung melibatkan situasi di mana orang-orang baik untuk atau melawan masalah ini.
Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup.[5]
Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri.
Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral.
Hal ini diperlukan agar peserta didik dan atau warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan (moral).
Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge).
Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri (conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati (humility).
Moral action merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
B. Kerangka Pemikiran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2001: 377), guru adalah manusia yang tugasnya (provesinya) mengajar, dalam buku kamus pendidikan, guru adalah pendidika profesional di sekolah dan tugas utamanya adalah mengajar (vebrianto, 1994:21). Secara linguistik, istilah yang bermakna guru terdapat di seluruh bahasa dunia, dalam bahasa Inggris, umpannya dikenal dengan istilah teacher yang padanan bahasa Indonesianya adalah guru.
Teacher memiliki arti A person whose occupation is teaching others, yaitu seseorang yang pekerjaannya mengajar orang lain (syah, 2003: 222). Dalam bahasa arab, guru dikenal dengan istilah salah satunnya mu’allimi, yaitu orang yang menjadikan orang lain berilmu atau orang yang menyapaikan informasi keapda orang lain. Di jelaskan dalam firman Allah SWT yaitu pada surat al-faathir ayat 35 Allah SWT berfirman:
üÏ%©!$# $oY¯=ymr& u#y ÏptB$s)ßJø9$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù w $uZ¡yJt $pkÏù Ò=|ÁtR wur $uZ¡yJt $pkÏù Ò>qäóä9 ÇÌÎÈ
Artinya : Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama [6]Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Hasbi Ash-Shiddiqi, 2000 h. 2217)
1. Peran Guru
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan baik jasmani maupun rohaninya. Agar tercapai tingkat kedewasaan mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai mahluk Tuhan, mahluk sosial dan mahluk individu yang mandiri (Dri Atmaka 2004: 17). Hal ini menunjukan betapa pentingnya seorang guru dalam membawa perubahan masa depan bangsa bahkan dunia. Adapun peran dari seorang guru dalam proses kemajuan pendidikan sangatlah penting. Guru merupakan salah satu faktor utama bagi terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas, tidak hanya dari sisi intelektulitas saja melainkan juga dari tata cara berperilaku dalam masyarakat. Oleh karena itu tugas yang diemban guru tidaklah mudah. Guru yang baik harus mengerti dan paham tentang hakekat sejati seorang guru, hakekat guru dapat kita pelajari dari definisi atau pengertian dari istilah guru itu sendiri
Guru-guru yang efektif yang membangun hubungan positif dengan siswanya tampaknya menjadi kekuatan yang besar pada kehidupan siswanya. Siswa yang mempunyai masalah adalah yang tampaknya mendapat manfaat terbesar dari pengajara yang baik.[7]
Di tinjau dari sebuah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disahkan oleh DPR bersama Presiden pada 30 Desember 2005. Dan, diundangkan di Jakarta pada tanggal yang sama dalam Lembaran Negara RI Tahun 2005 Nomor 157. Pada UU ini dijelaskan pengertian yang berkaitan dengan guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Pada bab I pasal I ketentuan umum menjelaskan
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[8]
Seorang guru sebagai pendidik yang dapat membangun dan mengembangkan karakter siswanya adalah guru yang mampu menjadikan dirinya sebagai multi talent. Menjadi guru yang mampu menguasai pembelajaran, memanajemen tugas-tugas administrasinya dan mampu membngun semangat anak didiknya tidaklah mudah. Terlebih memasuki pada zaman modern dimana semua teknologi dan informatika sudah berkembang pesat dan menjadikan sebuah tantangan yang nyata bagi guru untuh tetap menumbuhkan karakter-karakter yang baik kepada anak didiknya.
2. Pengemabangan karakter yang Islami
Karakter secara harfiyah berasal dari bahasa Latin “character”, yang berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Secara istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Jadi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat.
Karakter sama dengan akhlak dan budi pekerti. Karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa/budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik (Ridwan Asy-Syiarbaany, 2010: 177).
Pendidikan karakter adalah penanaman nilai esensial dengan pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadiannya. Pendidikan karakter dalam grand desain pendidikan karakter, adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Pendidikan karakter dalam Islam dapat dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah. Sifat dasar manusia yang diberikan Allah adalah sifat fujur (cenderung kepada keburukan/kefasikan) dan sifat taqwa (cenderung kepada kebaikan), sebagaimana Al-Qur’an Surah Asy-Shams, 91: 7-8 Allah SWT berfirman:
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ
Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
(Hasbi Ash-Shiddiqi, 2001 h. 278)
kedua sifat inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter (nilai baik atau buruk). Nilai baik disimbolkan dengan nilai malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai setan. Karakter manusia adalah hasil tarik menarik antara kedua nilai tersebut dalam bentuk energi positif dan negatif.
Maka hanya orang yang bertakwalah yang mampu menunjukkan sebagai pribadi hamba dan khalifah Allah. Jadi, tujuan pendidikan karakter Islami adalah menjadikan anak didik sebagai hamba dan khalifah Allah yang berkualitas taqwa. Pekerjaan atau aktifitas taqwa meliputi semua bidang mulai dari keyakinan hidup, ibadah, moralitas, aktifitas interaksi sosial, cara berfikir, hingga gaya hidup.[9]
Menciptakan karakter yang islami dengan pendidikan yang bebas tetapi tetap berada dalam nilai-nilai pendidikan maka penulis mencoba mendeskripsikan mengenai sekolah alam dan penulis akan melihat sebesar apa peran guru dalam pengembangan karakter siswa yang islami.
3. Konsep Sekolah Alam
Sekolah alam pada dasarnya adalah bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam semesta sebagai tempat belajar, bahan mengajar dan juga sebagai objek pembelajaran. Dengan konsep pendidikan ini para siswa diharapkan bisa belajar dari alam lingkungan sekitar dan mengaitkan pelajaran serta menerapkan ilmu yang didapat dengan kehidupan nyata sehari-hari.
Bangunan tempat anak belajar di sekolah alam biasanya terbuat dari bahan yang ramah lingkungan seperti bambu dan kayu lokal. Para siswa biasanya duduk di lantai (lesehan) atau duduk di kursi yang terbuat dari bambu atau kayu. Jalan setapak di sekitar tempat belajar pun biasanya menggunakan batu-batu kali dari alam.
Kelas yang digunakan tidak tertutup seperti kelas di sekolah formal melainkan berupa saung atau ruang belajar terbuka. Itu pun tidak terlalu sering dipergunakan karena anak didik sekolah alam lebih sering melakukan praktek di lapangan. Situasi belajar di alam terbuka menawarkan siswa untuk menghirup udara segar sambil menikmati keindahan alam sekitar. Konsep belajar melalui pengalaman yang didapat langsung sambil bermain dan berinteraksi di alam terbuka ini jelas membuat anak tidak mudah bosan saat belajar.
Para siswa sekolah alam juga tidak mengenakan seragam sekolah sebagaimana layaknya siswa di sekolah umum. Siswa hanya dituntut untuk berpakaian bersih dan sesuai untuk kegiatan belajar di sekolah.
Hal ini tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan ruang belajar di sekolah formal. Pada umumnya kegiatan belajar mengajar di sekolah umum dilakukan di dalam ruang belajar atau kelas tertutup. Anak lebih banyak mendapat teori pelajaran dan sedikit praktek di lapangan. Situasi dan kondisi belajar mengajar di ruang yang memiliki 4 dinding memberikan kesan yang kaku.
Konsep pendidikan alternatif di alam terbuka menjadikan para siswa dan guru sekolah alam lebih aktif, bersemangat dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. Para siswa sekolah alam diajarkan untuk dekat dengan alam, bercocok tanam, membudidayakan dan mendaur ulang hasil alam, mulai dari menanam tanaman sendiri, menuai hasilnya, memakan makanan organik dari kebun sendiri dan diajarkan cara mengolah atau memproduksi makanan itu sendiri menjadi sebuah bisnis.
Misalnya saat anak belajar mengenai berbagai macam fungsi dan bagian dari tanaman. Di sekolah alam, anak-anak dapat melakukan percobaan, mengamati, mendiskusikan dan menyimpulkan sendiri hasil penelitian yang mereka lakukan.
Mempelajari alam semesta dengan mengalami langsung pengetahuan yang sedang dipelajari merangsang kreativitas siswa. Kebebasan untuk menggunakan logika dalam berpikir inilah yang memacu motivasi siswa untuk bergairah mencari ilmu.
Peran seorang guru dalam pengemebangan karakter siswa yang islami pada studi kasus di sekolah alam inilah menjadika tantangan tersendiri bagi penulis untuk mengetahui berbagai macam pendidikan yang disajikan pada sekolah alam, mulai dari konsep, manajemen, kegiatan belajar mengajar, metode yang digunakan, kurikulum dan lainnya.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang signifikan antar peran guru dalam pengembangan karakter siswa di Sekolah School of Universe.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara persepsi guru tentang karakter siswa yang islami di Sekolah School of Universe.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara karakter yang islami terhadap peran guru dalam pengembangannya di Sekolah School of Universe.
[1] Ahmad D marimba, 198:37
[2] Mahmud. 2011. Sosiologi pendidikan. Bandung; Pustaka setia h. 108
[3] Abah rama 2011:76
[4] Lendonovo. Belajar bersama alam. Bogor: SOU publisher. 2011 h. 81
[5] Desmita. 2009. Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja rosdakarya h. 35
[6] Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah
[7] Anita wolfook. Educational pshychology, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009 h. 7
[8] Pendidikan nasional strategi dan tragedi, 2009 h. 289
[9] http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/24/pendidikan-karakter-dalam-perspektif-Islam-pendahulan/ diakses pada 23 Februari 2016 pukul 19.12WIB
Langganan:
Komentar (Atom)